Archive for hate

the butterfly..

Posted in featured with tags , , , on October 23, 2014 by enybodyhome

“See you tonight?” Satu pesan singkat dari salah satu instan messenger, muncul di layar komputernya. Tersenyum, dia kirimkan emoticon senyum ke si pengirim pesan. “Sure, 6.30pm?”. Sedikit desiran muncul di dalam hatinya saat mengirimkan jawaban tersebut ke pengirim pesan. Would it be real? Am I really gonna do this tonight? Sesaat dia ragu. Diketuk-ketuk jarinya ke meja sambil menggigit bibir. Berusaha berpikir lebih dalam. “Yes, gue check in duluan ya, nanti gue jemput”. Pesan kedua muncul. Dia berhenti mengetukkan jarinya dan beranjak dari kursi menuju ke tempat di mana tas nya berada. I need to make sure i bring the right underwear..

****


Ini adalah penantian bertahun – tahun. Dia dan lelaki yang sedang  menunggu telanjang di tempat tidur di dalam kamar hotel itu. Ditatapnya bayangan dirinya di depan kaca, mengenakan lingerie baru seksi berwarna hitam yang memang sengaja dibelinya untuk moment ini. Perempuan muda berusia tiga puluhan menatap balik kepadanya. Perempuan muda dengan lingkaran hitam di bawah matanya menandakan keletihan. Rambut ikalnya terurai sampai bahu, dengan warna cat rambut kemerahan. Dipulaskan ke bibirnya lipstick berwarna merah. Kemudian dihapusnya lagi, dan mengganti dengan lipstick yang warnanya lebih natural. He doesn’t like woman who wears too much make up, pikirnya. Ditatapnya juga bayangan tubuhnya di cermin. Tidak tinggi. Dan juga tidak ramping. Perutnya agak membuncit hasil dari melahirkan buah hatinya. Ada sedikit guratan stretch mark di paha dan perutnya. And luckily he doesn’t like skinny woman. He adores plus size models. He likes meat. Itu yang selalu diucapkan si lelaki, dan membuatnya tersenyum menatap bayangan dirinya.

Ya, dia mengenal dengan baik lelaki itu. Lelaki yang menjadi bagian dari hari-harinya bertahun – tahun belakangan. Lelaki yang menjadi tempat dia bercerita dan juga sebaliknya. Lelaki yang mungkin tahu seluruh bagian rahasia tergelapnya, dan juga sebaliknya. Lelaki itu adalah sahabatnya. Mereka sudah saling mengenal selama tujuh tahun. Saling mendukung satu sama lain, dan saling menutupi borok masing-masing. Dan mungkin juga saling memendam hasrat ke satu sama lain..

“Hey are you done inside there? Or are you afraid to come and see me now?” Suara dari dalam kamar mengagetkan dia. “Hahahaaa enak aja. Elo kali yang takut. Bentar dikit lagi ya, make sure you dont hide yourself under the bed..” Balasnya. Disemprokannya lagi parfum beraroma buah kesukaannya ke leher dan lengannya. Menyisir rambutnya sekali lagi, kemudian keluar dari kamar mandi menghampiri si lelaki..


****

“Jadi elo dah berapa lama ga kontak sama dia?” Teman perempuannya bertanya. “Sudah sebulan. Dia marah untuk hal kecil. Udah waktunya move on berarti kan ya?” I should ask the question to my own self, pikirnya sambil memutar-mutar sendok di dalam gelas kopi di hadapannya. Temannya memandangnya ragu. “Well, yang kalian jalanin memang Cuma affair kan. Yang sayangnya affair serius karena sudah berlangsung dua tahun. Dan meski lo sudah bercerai, tapi dia belum. Dan kalau bicara soal move on sih seharusnya lo sudah move on dari dulu. Tapi lo gak mau coba hubungi dia dulu, say hi or asking the situation between you guys, maybe?”

Sambil masih memutar sendok, ditatapnya temannya. Meski sekilas pandangan itu hanya pandangan kosong. Dia lalu berbicara dengan suara pelan, lebih seperti bicara kepada dirinya sendiri. “We were bestfriend before we’re doing this. Sebelum mulai gue tanya apakah gue akan kehilangan dia sebagai sahabat. Kata dia nggak. Dia tahu pengalaman gue sama lelaki sebelum dia gimana. Semua ninggalin gue. Dan kalau hanya karena hal kecil dia bisa memperlakukan gue seperti ini, artinya gue bukan sahabatnya, dan gue gada artinya. Kenapa gue harus mencoba..”

“Well.. setidaknya lo tahu di mana posisi lo sekarang ya.. “ Jawab temannya singkat


****

“Gue tunggu di kamar 106 ya.” Pesan dari whatsap messenger masuk ke handphone nya. “Okay, im on my way”. Setelah menjawab, ia tambahkan pulasan warna merah di bibirnya, dan menyemprotkan parfum beraroma buah favoritenya. “Eh maaf, saya lupa bilang, ke Hotel Neo Tendean ya, Pak”. Dia ucapkan ke supir taksi yang sedari tadi tampak bingung menatapnya dari spion, karena sudah sepuluh menit taksi membawanya tapi dia tak kunjung menyebutkan nama tempat tujuannya.

Tersenyum dia melalui spion, kepada supir taksi yang diam-diam masih menatapnya. Dan kemudian matanya kembali menekuni layar handphone. Sebelah tangannya mengetuk-ngetuk kursi taksi. Ini pria keempat dalam dua minggu ini. Keempatnya dari lingkungan dan tempat yang berbeda. Yeah, it is all for sex now. I am done with love, ujarnya pelan. Kepada diri sendiri..

Advertisements