Death..

Hari ini salah seorang temen cerita kalau usia hidup salah satu kerabatnya tinggal 3 bulan lagi. Lalu pas di kampus, tepat banget topiknya membahas soal akhir hidup atau kematian.

Sepanjang sesi kuliah, i cant help but thinking what if my time comes? Apa gue sempet ngerasain lima tahap menghadapi kematian itu, atau malah sama sekali ga ngalamin? Apa orang – orang di sekeliling gue, yang gue cintai, akan ngalamin tahap tahap berduka seperti yang dijelasin di sesi kuliah tadi? Gimana perasaan gue saat tahu gue akan meninggal dan harus ninggalin mereka? Apa yang akan muncul di benak gue saat flashback seluruh hidup gue? Apa yang akan gue sesali sudah lakukan dan apa yang gue harap gue lakukan? Siapa yang akan menangis untuk gue, dan siapa yang akan mensyukuri kematian gue? Apakah nanti gue sudah cukup puas dengan kehidupan gue dan meninggal dengan tenang atau malah penuh kesakitan karena merasa hidup gue belum cukup baik?

Semua pertanyaan itu mendadak nongol di otak gue. Unanswered. Dan baru bisa gue jawab nanti saat waktu gue tiba.. Which i could only hope semoga sampai waktu itu tiba, i have done my best..

Advertisements

3 Responses to “Death..”

  1. Yeps, baca ini jadi ingat selalu kata-kata bapakku tiap aku khawatir kalau dia jatuh sakit, kenapa mesti khawatir dengan kematian, itu sesuatu yg pasti, yg perlu kita khawatirkan adalah hidup yg kita jalani, sudah siap apa ngga kalau ntar mati ? hiks.. šŸ˜„ gw juga ngga bisa jawab. hy berharap, semoga jika itu tiba, gw memang udah siap, meski gw tahu sebenarnya ngga ada orang yg bener2 siap untuk itu, tepatnya meninggalkan orang-orang yg telah menemani kita hidup.. ;(

  2. Rasanya sih ngga ada orang yang pernah siap untuk mati ya.. Baik yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Entahlah kalau meninggalkan. Tapi yang ditinggalkan… well, waktu mamaku meninggal, hanya berselang 1 jam dari sakit di dadanya, itu asli bikin shock banget. Aku gak berkesempatan untuk minta maaf, pun mengatakan sayang ke beliau.

    Dan sampe detik ini, aku masih gak bisa melupakan wajah mama saat sudah jadi jenazah. Yakinnya sih sudah ikhlas, tapi otak ini masih gak bisa percaya rasanya mama sudah ngga ada.

    Pernah denger pepatah, “Home is where a mother is.” Eksistensi kata “rumah” hanya ada ketika ibu masih hidup. You know what, pepatah ini bener banget. Setelah mama meninggal, kami kakak beradik bisa dibilang fall apart. Mencoba mengatasi kesedihan masing-masing. Lebaran kemarin, kami sama sekali ngga ngumpul. Mau ngumpul di mana? Mama sudah gak ada. Dan kami sudah terbiasa ngga tinggal sama papa.

    Trus setelah nenekku (ibunya mama) meninggal, kami sudah gak lagi merasa bahwa rumah di kampung itu adalah rumah kami. Itu rumah kakek. Kami gak bisa lagi kumpul di situ.. Mungkin lebay ya, tapi that’s how we feel.

    Yang terburuk adalah kehilangan tempat mengadu tanpa dihakimi. Cuma mama yang mencintai kita tanpa syarat. Kita melukai beliau seperti apapun, mama selalu menerima kita pulang dengan pelukan dan ciuman hangat. Curhat apapun, mama selalu mendengarkan dan memberi solusi. Aku udah gak bisa merasakan itu lagi. Such a gigantic loss.

    So, bersyukurlah yang masih ada mama-papanya. Ketika salah satu dari mereka tiada, rasanya bener-bener lost.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: