Semoga Tuhan tidak mengutuk saya

Saya melepas kerudung saya. Teman saya bilang, itu tindakan yang impulsive sekali, seharusnya saya sudah lelah jadi orang yang impulsive, katanya.
Suami saya bilang, “I told you so, you should be ashamed of yourself.
Teman yang lain bilang “Sayang bangeeeett”.
Sejujurnya saya tidak terlalu peduli apa kata orang. Meski harus saya akui, saya lumayan perih dan sakit menerima cacian yang datang bertubi dari suami saya sendiri. Orang yang seharusnya bisa menjadi tempat saya berlindung dan mampu berada buat saya, separah dan sekonyol apapun yang saya buat.
Jujur saya agak shock atas sikap.suami yang malah menertawakan (dalam hati) dan lalu menjudge dan menyerang saya. Di mana seharusnya dia bisa bertanya ada apa, dan membantu saya.
Tapi ya sudahlah. Toh saya sedang tidak ingin membicarakan dia..
Yang saya ingin bicarakan, adalah mengapa saya ambil keputusan ini.
Saat saya memutuskan menggunakan kerudung, kondisi mental saya sedang porak poranda. Apart of my heart was in a very big mess. I was kinda hoping that by using my veil, i could clean up all the mess somehow.
Tapi ternyata tidak. Sebagian diri saya itu masih berantakan dan mungkin memburuk. Dan tanggung jawab menjadi perempuan yang mengenakan simbol seolah-olah dia religius ini, ternyata malah semakin menekan saya. Dan saya tidak sanggup.
Mungkin saya tidak bersabar, mungkin saya kurang kuat dan kurang berusaha. Tapi beban moral dan branding orang orang yang saya temui yang menganggap saya orang baik dan calon penghuni surga, sepertinya malah membuat hati saya seperti diberati batu satu ton.
Seharusnya ini memang menjadi pemicu, pengingat dan tetap istiqomah dengan pilihan berkerudung saya, tapi yang terjadi saya malah makin merasa tercekik..
Salah satu hal yang paling saya takut adalah menjadi orang yang bukan diri saya sendiri. Saya tidak ingin orang menganggap saya baik when in fact i am not. Saya ngeri dan malah merasa diteror saat orang menganggap saya calon surga. Its creepin the hell out of me.
Dan begitulah. Pada satu pagi kmarin, saya memutuskan untuk membukanya. Saya berbuat salah dengan mengenakannya sebelum saya siap. Saya tidak ingin memperburuknya dengan menodai pakaian yang menurut sebagian besar orang adalah tanda suci itu.
Meski jujur, saya yakin orang yang tak berkerudung bukan berarti tidak punya tempat di surga

Ps : thankyou mbak jihan, nisa dan hendra who still accept me however i am

Advertisements

3 Responses to “Semoga Tuhan tidak mengutuk saya”

  1. saya juga tidak menjudge dirimu lohh… urusan surga itukan urusan iman… Tuhan nggak sepicik itu, dia nggak lihat penampilan tapi lihat iman kita 🙂

  2. Gakpapa, kerudung itu harus dipakai ketika seseorang benar2 merasa siap. Itu tujuannya habluminallah…habluminannas harus dipisahkan dari hal2 begituan.

  3. i feel it buuu, i did it too…justru saat2 kaya gitu kita juga bisa lebih tau, siapa yg tulus menjadi teman dan mensupport kita dalam kondisi apapun, kmrn2 gw masih nebak2 aja lo lepas itu jilbab, ternyata beneran..heehhh…yang gw rasain justru setelah lepas, gw labih jernih melihat Tuhan, dan agama gw… iman dan keyakinan itu masalah hati, bukan sekedar simbol… love you buuuu..hug n kiss buat kiara n naila yaaa…

Leave a Reply to stayrain Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: