the time traveller

Saya melihatnya saat itu. Saat si perempuan menatap kagum sosok laki-laki bermata nakal yang menyodorkan tangan untuk berkenalan. Sipu malu di wajah manisnya menggambarkan jelas degup suka si perempuan pada lelaki yang tersenyum penuh simpatik dan penuh keramahan. Ya,bahkan sayapun jatuh cinta lagi pada senyum si lelaki. Tapi di sanalah saya,cuma bisa menatap bisu,dengan dada penuh harapan bisa menyuruh perempuan itu lari segera dari sana. “Run!For your life!While you can!”.Begitu ingin saya berteriak.

Perempuan itu bimbang. Menatap handphone,dan sesekali jam tangannya. Wajah manisnya,tampak semakin manis dengan make up lengkap menghiasi wajah. Satu set perlengkapan menginap terjejal di dalam tas. Saya berdiri di sampingnya,dengan tatapan kesal. Handphonenya berbunyi,satu pesan masuk. “Gue dah sampe di hotel,lgsung masuk ya,kamar 405″. Dia menatap lama layarnya,dan menghela nafas saat matanya menangkap cincin suci di jari manisnya. Saya menatap si perempuan menggelengkan kepala,”Please dont go there”,bisik saya. Si perempuan melewati saya acuh,dan masuk ke dalam taksi. “Hotel milenium,pak”. Saya lihat dia berujar.

Mereka saling merengkuh,membelai dan mencium. Bau nafsu dan keringat penuh hasrat mengisi kamar hotel itu. Saya malu melihat si lelaki bermata nakal itu menjilat liar si perempuan yang menatapnya penuh cinta. Seperti kata mereka,ini cinta bertepuk sebelah tangan. Sayapun menangis.

Si perempuan terisak. Memegang undangan pernikahan, dengan nama si lelaki nakal tertera di atasnya. Pada akhirnya akan begini,dia tahu itu. Diusapnya sosok kecil di dalam perutnya. “You would never know your real dad”. Saya cuma bisa bersedih melihat perut besarnya. Ingin rasanya saya memeluk perempuan bodoh ini.

*****

Saya terjaga dari lamunan. Musik dari ipod saya masih mengalunkan lagu-lagu favorit saya. Musik selalu mampu membawa saya menjelajahi jauh memori dan kenangan yang saya punya. Layaknya time traveller,saya menyusupi waktu bahkan ke dalam kenangan paling menyakitkan sekalipun.

Saya tatap wallpaper handphone.  Bergambar keluarga kecil bahagia milik saya. Saya,suami dan dua anak kami yang tersenyum bahagia,yang salah satunya memiliki mata nakal.

 

Advertisements

15 Responses to “the time traveller”

  1. Sumpah, itu bukan saya. Mata saya gak nakal, kok.

    *digampar

  2. <— punya mata nakal juga tapi ngga brengsek kok

  3. “Layaknya time traveller,saya menyusupi waktu bahkan ke dalam kenangan paling menyakitkan sekalipun. ” *garuk2 tanah*

    ending “mata nakal” jadi tanda tanya besar buat pembaca galau kaya gue, hahahahha….! nice post anyway… ^^

  4. Musik selalu mampu membawa saya menjelajahi jauh memori dan kenangan yang saya punya….

    musik ini sejenis alat self hipnotis yg manjur buat elo kayaknya hehehehe

  5. mata saya juga nakal kok, kalua liat kucing lagi berantem <== jgn bahas komen ini

    bener sekali dah mbak, musik emang bisa ngebawa kita entah kemana dunia alam pikiran kita, nih keknya postingan keluar deadline ya

  6. ng.. ng… ng…. *pingsan* :p

  7. kurakura putih Says:

    jadi penasaran ma anak bermata nakal itu,, kenalin dong k’.. :p

  8. […] Si perempuan melewati saya acuh,dan masuk ke dalam taksi. “Hotel milenium,pak”. Saya lihat dia berujar. Baca kelanjutan cerita ini di SINI […]

Leave a Reply to Nina Razad Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: