music box

Waktu kecil, Lily selalu suka music box. Entah kenapa rasanya romantis dan hangat sekali duduk menatap penari balet mungil menari berputar diiringi lagu syahdu dan lembut, saat kotaknya dibuka. Tapi Lily tidak pernah punya music box. Lily cuma menatapnya setiap kali Lily berkunjung ke toko mainan, atau toko pernak pernik perempuan. Bagi Lily kala itu, harga music box terlalu mahal.

 

Sewaktu SMP, perasaan Lily terhadap music box masih sama. Bagi Lily yang sudah mulai sedikit mengenal kata cinta coba-coba, setiap kali melihat music box di toko, Lily sering bergumam penuh harap. Bahwa suatu saat nanti, si pangeran tampan kesukaan (dalam hal ini adalah teman sekelasnya yang maha ganteng kala itu), datang dengan kuda putihnya dan membawakan music box sebagai tanda-simbol-lambang cintanya kepada Lily. Tapi, tidak. Inipun tidak pernah terjadi.

 

SMU, kuliah, dan bekerja. Masa-masa itupun Lily lewati. Namun Lily tumbuh masih dengan perasaan yang sama  terhadap music box. Selalu ada rasa yang tak bisa digambarkan, yang membuat Lily merasa hangat dan syahdu setiap kali membuka kotaknya. Lily sudah mampu membelinya sendiri. Tapi tidak, Lily tak pernah membelinya. Lily hanya menatapnya lekat-lekat dan membuka dan menikmati musiknya setiap kali Lily melihatnya di toko. Jauh di dalam hati Lily, Lily masih mengharap ada pangeran tampan yang meletakkan hatinya di dalam kotak itu, dan memberikannya kepada Lily. (Siapapun pangeran tampan itu)

 

Sekarang sudah belasan tahun berlalu. Seonggok music box rusak teronggok di kotak besar tempat mainan keponakan Lily. Music boxnya rusak. Kotaknya pecah, dan sudah tidak bisa ditutup lagi. Penari mungil kecilnya pun sudah tidak ada. Tapi bila Lily memutar tombolnya, suara syahdunya masih terdengar dan masih mengalirkan rasa hangat yang sama. Tidak, Lily tidak membelinya. Juga bukan dari pangeran tampan. Tetapi itu milik adik Lily yang rusak dan diminta oleh keponakannya karena dia senang dengan warnanya yang pink.

Si Pangeran tampan itu tak pernah datang.

 

Advertisements

13 Responses to “music box”

  1. sori gw telat …. pangeran kena macet tadi 😐

  2. Teman sekelasnya yang maha ganteng kala itu : gtau kenapa pengen ketawa baca ini. WkkkkK

  3. Selesai membacanya, kok jadi mikir ya…..
    Kenapa si pangeran tidak pernah datang? ada yang salah, kah? Marah? atau…..

    #Tanyaserius

  4. still…. nice post 🙂

    *abis mau ngomong apa lagi* hehehehe

  5. wah kacrut guardian yak
    mau follow tapi bukan blogger ngikutin dari kacrut aja dah

    kalau bole tau tuh pangeran aku ya (pede tingkat dewa)
    peace hehe

  6. […] music box – Hideous ( @enybodyhome ) hideous | 09 November 2011 | Music Box | music box | 2 komentar Tweet Waktu kecil, Lily selalu suka music box. Entah kenapa rasanya romantis dan hangat sekali duduk menatap penari balet mungil menari berputar diiringi lagu syahdu dan lembut, saat kotaknya dibuka. Tapi Lily tidak pernah punya music box. Lily cuma menatapnya setiap kali Lily berkunjung ke toko mainan, atau toko pernak pernik perempuan. Bagi Lily kala itu, harga music box terlalu mahal. Sewaktu SMP, perasaan Lily terhadap music box masih sama. Bagi Lily yang sudah mulai sedikit mengenal kata cinta coba-coba, setiap kali melihat music box di toko, Lily sering bergumam penuh harap. Bahwa suatu saat nanti, si pangeran tampan kesukaan (dalam hal ini adalah teman sekelasnya yang maha ganteng kala itu), datang dengan kuda putihnya dan membawakan music box sebagai tanda-simbol-lambang cintanya kepada Lily. Tapi, tidak. Inipun tidak pernah terjadi. Baca selengkapnya di SINI […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: