Menjadi penting…

“Menjadi orang penting itu baik, tapi yang lebih penting, untuk selalu jadi orang baik”

 

Kalimat tersebut di atas saya dengar waktu saya masih kecil sekali. Kalau tidak salah saat itu saya masih SD, dan sayapun mendengarnya sayup-sayup saat larut malam, melalu televisi 14 inchi milik keluarga. Waktu itu rumah kami kecil sekali, ruang tamu, merangkap ruang tidur, dan merangkap ruang makan dan ruang keluarga. Saya yang sudah terlelap, entah kenapa agak terjaga, dan mendengar Almarhum Ebet Kadarusman, di acara talkshownya yang saat itu sedang booming, di salah satu televisi swasta kita yang slogannya pakai kata OKE. Dan entah kenapa, kalimat sederhana yang disampaikan oleh Alm. Kang Ebet saat menutup acara tersebut, mengena sekali di hati saya. Di tengah usaha saya untuk kembali terpulas, saya mengucapkan kata itu di dalam hati, dan terus saya tanamkan di dalam benak saya. Hingga sekarang.

 

Dan begitulah. Sejak saat itu, setiap kali saya diminta mengisi diary kawan-kawan sebaya, dengan biodata saya (waktu itu yang begini, trendy sekali). Saya pasti menulis barisan kalimat sederhana tersebut di bagian “Kata Mutiara” , atau “ Kata Kenangan” atau “Motto”. Waktu itu saya belum terlalu meresapi maknanya. Hanya sekedar menulisnya supaya beda dari kata mutiara kawan-kawan yang lain yang rata-rata bertuliskan “Jangan lupakan aku” atau “Salam Manis Selalu” atau “Diam itu emas , emas itu kuning, kuning itu t*i”.  Tapi seiring perjalanan usia, saya semakin yakin bahwa kalimat itu benar adanya.

 

Dan mungkin, karena sangat terlalu berpedoman dengan kalimat tersebut, saya tumbuh menjadi orang yang sama sekali tidak ambisius. Dari sejak jaman sekolah, saya ga pernah tertarik ikut organisasi, jadi OSIS, jadi kakak-kakak kelas yang terkenal dan “penting”, atau jadi apapun yang kelihatannya penting. Satu-satunya organisasi yang saya ikuti, hanya ekskul theater, yang saya ikuti hanya karena saya suka theater. Bukan karena ingin terlihat penting.

 

Berlanjut saat di dunia kerjapun begitu. Saya gak tertarik mendekati “orang-orang penting”. Saya gak tertarik ikutan sok-sokan penting, apapun posisi saya. Bagi saya menjadi penting itu sama sekali ga menarik. Dan saya juga sama sekali gak ingin dianggap orang penting. Mungkin itu sebabnya karir saya ya di sini-sini saja. Gak maju-maju :|.

Lantas apakah saya menjadi orang baik?

Heheheh tidak juga sih. Saya ya saya. Yang begini-begini saja. Tidak penting, dan juga tidak baik. Yang saya tahu, saya selalu berusaha memperlakukan orang dengan baik, meskipun saya sendiri bukan orang baik. Kalau ternyata ada yang merasa tidak saya perlakukan dengan baik, dengan ini saya minta maaf…

 

*loh, kok jadi #edisilebaran ?

 

 

Advertisements

2 Responses to “Menjadi penting…”

  1. you are nye something yud, hehe beug leiot nya ganti lagi uuy.

    Emm .. gw dulu sering tuh nulis “Diam itu emas , emas itu kuning, kuning itu t*i” lol

    • iyaaa model kaya luuu tuuu pasti demen dah nulis bgitu *eh gue juga sbenere

      iya neh,tapi belum cocok2 . ga nemu lay out yang tepat,.padahal dah 15.715 kali ganti 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: