akhirnya menikah

Tamu    : “ Si Mbak XXXX katanya udah nikah, ya?”

Saya     : “Iya mbak, udah, bulan Februari kemarin”

Tamu    : “Wah akhirnya jadi nikah juga ya diaa..”

Percakapan di atas baru saja terjadi. Terus terang, saya agak terganggu dengan komentar si Tamu. Rasanya kok agak kurang sopan ya, mengomentari orang, dengan cara seperti itu. Seolah-olah yang dikomentari sudah desperate untuk nikah, sehingga si tamu mengeluarkan komentar “Akhirnya jadi juga…”.

 

Pernikahan itu bukan cuma sekedar hubungan antar dua anak manusia saja. Dibutuhkan kesiapan mental, fisik, dan material untuk itu. Kalau orang memutuskan menikah, itu artinya dia sudah siap. Dan sesimple itu pulalah, kalau orang memutuskan belum mau menikah.

 

Bisa saja mentalnya belum siap, atau fisiknya, atau materialnya, atau bahkan memang jodohnya saja yang belum nemu. Jadi siapalah kita berhak menilai orang yang belum menikah, baru menikah, atau “pada akhirnya” menikah, dengan berbagai komentar yang gak perlu.

After all, life is all about choice. Apapun yang dipilih oleh orang, bukanlah urusan kita.

 

Advertisements

2 Responses to “akhirnya menikah”

  1. setuju dengan paragraf penutupnya. Choice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: